Makna Filosofi Yang Maha Esa

Oleh Habib Hasyim Arsal Al Habsi

Tauhid adalah keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pondasi ini sangat substansial bagi manusia. Seseorang tak bisa dikatakan sebagai seorang mukmin bahkan muslim tanpa tauhid. Menariknya, kalimat tauhid juga menjadi ideologi bangsa Indonesia yang tertuang dalam sila pertama Pencasila; Ketuhanan Yang Maha Esa.

Rasulullah Saw pernah bersabda, “Tauhid itu separoh agama.” Begitu pentingnya tauhid sehingga diposisikan sebagai separoh agama. Tanpa pondasi tauhid, agama tidak mungkin terbangun. Karena tauhid dapat dipahami tujuan penciptaan manusia, yaitu penghambaan kepada Allah Swt.

Manusia selain diharuskan sebagai sosok humanis, juga diwajibkan sebagai eksistensi transenden. Selain punya aspek hubungan dengan manusia (hablun minannas), manusia juga harus punya aspek hubungan dengan Allah Swt (hablun minallah). Dua sayap inilah yang menghantarkan manusia menjadi pribadi seutuhnya yang dikehendaki Allah dan Rasul-nya.

Di tahap tauhid, manusia harus punya pemahaman yang lurus sehingga tak salah arti dalam menghayati makna keesaan Tuhan. Ketuhanan Yang Maha Esa itu berartikan menegasikan segala hal yang setara, mirip dan berbagian pada Allah Swt.

Sayidina Ali bin Abi Thalib, khalifah keempat ummat Islam, dalam sebuah riwayat menjelaskan pengertian keesaan kepada Allah Swt. Syuraih Ibn Hani meriwayatkan, dalam suatu peperangan, seorang baduwi Arab bertanya kepada Khalifah Ali, “Apa makna bahwa Allah itu satu?”

Mendengar pertanyaan terebut, seorang sahabat menegur baduwi Arab tersebut dengan mengatakan, “Ini bukan saatnya bertanya. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib tengah berperang.” Mendengar hal tersebut, Ali menyahut, “Biarkanlah ia bertanya. Kita berperang juga karena hal ini (tauhid).”

Sayidina Ali sa menjawab pertanyaan baduwi Arab tersebut; “Ada empat pandangan terkait keesaan Allah Swt. Dua pandangannya tidak dibenarkan pada Allah Swt, sedangkan dua pandangan lainnya dibenarkan berlaku pada Allah Swt.”

Kemudian Sayidina Ali melanjutkan, “Dua hal yang tak dibenarkan pada Allah Swt; Pandangan pertama adalah makna satu sebagai kategori dari angka, maka pandangan demikian tak dibenarkan pada Allah Swt karena tidak ada makna kedua (dan seterusnya) bagi-Nya. Dia tidak dikategorikan dalam bilangan angka, maka kafir lah yang berpendapat ketiga dari salah satu ketiga (trinitas).”

Terkait pandangan kedua Amirul Mukminin Ali mengatakan, “Pandangan yang mengatakan, Dia adalah satu seperti manusia (spesies dari jenis binatang). Maksudnya, Tuhan ketika dikategorikan sebagai spesies dari jenis ( seperti manusia sebagai spesies bagian dari jenis hewan), maka pandangan seperti ini tidak dibenarkan karena sama halnya dengan penyerupaan. Allah Swt terlepas dari sifat itu.”

Adapun terkait dua pandangan lainnya yang dibenarkan pada Allah Swt, Sayidina Ali berkata, “Dua pandangan lainnya berlaku pada Allah Swt. Pandangan pertama; Allah itu satu yang tak mirip dan tak serupa dengan sesuatu apapun. Pandangan kedua yang dibenarkan pada Allah Swt; Allah Swt itu satu yang tidak menjadi bagian sesuatu baik dari sisi eksistensi, dari sisi akal, maupun dari sisi imajinasi. ”

Dengan demikian, Allah Swt menurut Ali bin Abi Thalib harus dipahami Yang Maha Esa. Pengertian Esa pada Allah Swt adalah tunggal yang tak satu pun yang menyerupai-Nya dan tunggal yang bukan bagian dari sesuatu.

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Hasyim Arsal

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *