Esa Bukan Satu

Esa Bukan “Satu”

Oleh HABIB HASYIM ARSAL ALHABSYI

Menggali makna Ketuhanan Yang Maha Esa sama halnya menghayati lebih dalam ideologi Pancasila. Di balik makna sila pertama Pancasila tersirat kandungan spirit ideologi yang menginspirasi nilai-nilai kemanusiaan transendental. `Hablun minannas wa hablun minallah.´

Sila pertama Pancasila sebagai ideologi bangsa sudah sepatutnya dikaji lebih filosofi. Melalui kajian filosofi Pancasila, jiwa bangsa ini diharapkan bangkit menyatu bersama negeri. Bermodalkan pemahaman lebih jauh, bangsa Indonesia akan paham makna sebenarnya Pancasila. Terkhusus sila pertama Pancasila yang mampu mengaitkan sila-sila lainnya sehingga satu sama lain saling terkoneksi secara spirit.

Makna keesaan Tuhan sudah seharusnya dipahami lebih jauh hingga relung-relung jiwa. Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lagi sekedar dibahas dari sisi keragaman beragama di negeri ini, tapi harus lebih mendalam.

Esa berarti tunggal. Pengertian tunggal di sini adalah tak berjumlah dan tak serupa dengan lainnya. Yang Maha Esa secara esensi (dzat) bukan lah satu secara spesies yang berarti satu berjumlah (satu yang berpotensi ke angka berikutnya dua dan tiga hingga selanjutnya) dan sejenis dengan lainnya.

Dalam bahasa Arab spesies ini disebut dengan istilah naou´. Maksud dari naou´ adalah sekelompok yang satu sama lainnya serupa. Spesies manusia adalah sekelompok manusia yang satu sama lainnya serupa. Ketika dikatakan bahwa ia bukan dari spesies ini, maka maksudnya adalah keduanya tidak serupa dan bukan sejenis.

Sementara ketika disebut bahwa ia termasuk bagian dari manusia, maka maksudnya adalah ia serupa dan satu spesies dengan manusia. Dengan demikian makna spesiasi terselubung keserupaan yang menyiratkan dualisme.

`Satu spesies´ (wahid naou´i dalam bahasa Arab) berarti sesuatu itu serupa dengan lainnya dalam spesiasinya. Dengan demikian, Allah Swt tak bisa dikategorikan sebagai `satu spesies´ yang di sana menyiratkan keserupaan dan dualisme. Konsekuensi dari makna `satu spesies´ adalah keserupaan dengan wujud lainnya. Maha Suci Allah yang jauh dari semua hal itu.

Sebuah riwayat menjelaskan, “Allah itu sesuatu tapi bukan seperti sesuatu-sesuatu.” Maksud dari riwayat tersebut ingin menjelaskan bahwa Allah Swt tak serupa dengan wujud lainnya. Maha Suci Allah Swt.

Allah Swt juga suci dari segala bentuk pembagian dan penyusunan. Segala sesuatu yang berunsur dan berbagian tidak berlaku pada Allah Swt. Pembagian apapun baik itu di fakta luar, benak akal maupun imajinasi, semua itu tak berlaku pada Allah Swt.

Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Sesuatu yang berbagi dan bersusun tak meliputi Allah Swt. Dia tak disifati dengan sesuatu dari bagian-bagian dan organ-organ. Dia juga tak disifati dengan lebar. Dia tidak pula bersifat `me-lain-kan sesuatu dengan sesuatu lain´(itu bukan ini) dan membagi-bagi.”

Maksud dari sifat `me-lain-kan sesuatu dengan sesuatu lain´( ghoiriah dalam istilah Arab) dalam perkataan Sayidina Ali bin Abi Thalib di atas adalah melazimkan dualisme. Ketika seseorang menyebut `itu´ bukan `ini´, maka ungkapan itu menyiratkan pembandingan yang terkandung dualisme. Karena inilah sifat ghoiriah atau me-lain-kan tidak lah berlaku pada Allah Swt.

Setelah menimbang penjelasan-penjelasan di atas maka dapat dikonklusikan bahwa Allah Swt secara esensi (dzat) menegasikan segala hal yang terbagi dan berunsur. Segala sesuatu yang di alam semesta adalah hasil ciptaan Allah Swt. Eksistensi seluruh makhluk tak lepas dari wujud ilahi.

Makhluk adalah akibat, sedangkan Kholiq atau Maha Pencipta adalah sebab. Secara substansi, makhluk bergantung penuh pada Sang Kholiq atau Maha Pencipta. Makhluk adalah fakir sejati atau nihil sesungguhnya.

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Hasyim Arsal

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *