Keagungan Citra, Kenaifan Pencitraan.

Di era millenium ke-3 ini, gegap gempitanya kemajuan information and technologi/IT rupanya tak serta merta bisa konggruen dengan kemajuan sisi ruhaniah manusia. Kita justru menyaksikan keterasingan orang dengan dirinya, dengan lingkungan keluarganya, dengan lingkungan usaha, maupun dengan lingkungan sosialnya. Ada yang tak beres pada sistem kepribadian dan lingkungan kehidupan kita.

Sudah menjadi kalimat hikmah dan universal yang tua bahwa kepribadian paripurna termaktub dalam diktum: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka sungguh-sungguh dia telah mengenal Tuhannya”. Tuhan pemilik seluruh realitas. Realitas lahir dan realitas batin. Pengenalan diri kepada pencapaian eksistensi ‘menjadi’ (diri sendiri) merupakan puncak perjuangan manusia. Tuhan menjadi limit. Sehebat-hebat manusia manapun, limitnya Tuhan (Rusdi Kirana,2008).

Dari kebeningan aras posisi universalitas Tuhan yang ada di dalam ‘diri’ kita ini, kita bisa menggali, mengupas, memeras dan mengurai intisari formula/anasir-anasir kebangsaan, bonum publicum/commune, peradaban, dan kepribadian ke-Indonesiaan kita. Sejarah telah mengajarkan kepada kita, betapa para aktornya bekerja keras menjinakkan diri sendiri melalui kompromi yang bersifat akseleratif untuk dapat bijak-sana berperan sebagai khalifah (wakil Tuhan) yang merahmati dan membudi daya alam semesta (memayu hayuning bawono). Kemudian mampu bijak-sini mengenal diri terutama dengan memanusiakan diri dan manusia lain (memayu hayuning jalmo) dalam suatu tata konfigurasi orde ‘kebaikan’ universal kemanusiaan manusia. Kesalehan Sosial Betapa mulianya manusia yang Tuhan nisbahkan Diri-Nya sebagai Rahasia-Nya.

Di dalam manusia melekat dimensi-dimensi fisik-material, ruhani (nafsu, memori-akal,hati,ruh), cahaya (nurani) dan ke-Tuhanan (Rabbani) sekaligus. Dari sudut pandang dimensi ke-Tuhanan pada diri manusia kita bisa menarik implikasi bagi peran kesejarahan yang bisa dimainkannya sebagai Khalifah (wakil Tuhan/Citra-Nya). Ketika berhasil mengejawantahkan dalam batin dan laku kita sifat-sifat dan anasir nama Tuhan yang baik-baik seperti Maha Pemurah, Maha Suci, Maha Terpuji, Maha Pengampun, Maha Kaya, Maha Pencipta, Maha Kasih Sayang, Maha Indah, Maha Lembut, Maha Pencipta, Maha Syukur, Maha Sabar dlsb, maka penyatuan ruhaniah dimensi-dimensi ke-Tuhanan akan menghidupkan diri dan menjadi akar yang baik dari tegaknya pohon cahaya kepribadian yang saleh.

Kesalehan yang paripurna akan melingkupi keseluruhan kesalehan, yang mencakup; kesalehan ritual individual/legal formal simbolik, spiritual, kesalehan intelekktual, kesalehan moral dan sosial. Kesalehan sosial inilah yang kemudian secara agregat kemanusiaan menjadi modal sosial atau civil religion ataupun agama publik. Unsur-unsur universal kebudayaan ini eksis dan hadir pada setiap bangsa dengan berbagai variasi modalitas, intensitas, esensi, eksistensi, kuantitas dan kualitasnya. Dari sisi dimensi ruhani dan cahaya inteleknya, terlepas dari berbagai kontroversinya, Sigmund Freud telah meng-create suatu kerangka teoritis yang mampu menyibak struktur alam kesadaran dan bawah sadar manusia, dalam sistem kepribadian /batin manusia yang meliputi unsur Id, Ego dan Superego. Pada Freud, dinamika kepribadian lebih banyak ditentukan dan bermain di wilayah instingtif libidal Id (hasrat, libido, keinginan) dengan sekedar saja dipengaruhi oleh dimensi Ego dan Superego. Di kemudian hari ketika kaum Humanistik dan Fenomenologi melihat dari sudut pandang yang lain, Superego, Ego dan realitas keteraturan sosial, ilmu pengetahuan lalu mampu menyibak dimensi dan sisi humanisme transcendental peradaban manusia.

Sumbangan Napoleon Bonaparte, Emmanuel Kant dan William Friedrich Hegel yang disusul Karl Marx dalam mengurai dan menelanjangi paradoks-paradoks diantara komponen-komponen sejarah dan mengkonstruksikannya dalam paradigma ‘ideologi’ ketidakadilan tuirut mempengaruhi arah perjalanan sejarah. Kaum Post Modernis lalu mengusung kredo ‘kebenaran ada dimana-mana’, bangunan keabadian suara Tuhan (rakyat/publik) dikumandangkan dengan lebih terang. Pergulatan eksistensi ruang publik (public sphere) dan ‘masyarakat warga’ (civil society) menyeruak secara massif menjadi isyu kemanusiaan yang masuk ke wilayah kesadaran manusia yang belum pernah ada dalam sejarah. Menjadi amat menantang dan menarik bila pergulatan eksistensial tersebut dipandang dalam konteks masyarakat Indonesia yang sangat pluralis, dominan berstruktur budaya feodal dengan struktur kesadaran masyarakatnya yang masih antroposentris (Anwari WMK,2007).

Pancasila Tersayang Bersyukurlah kita yang telah diberikan warisan permata yang sempurna Pancasila,yang tidak ada satupun bangsa di dunia ini bisa membantahnya sebagai sebuah bangunan filosofi kehidupan universal yang adiluhung. Para founding fathers yang ikhlas telah merumuskan sistem alam pemikiran Pancasila dengan kerangka pengetahuan sucinya dalam kerangka azasi kerja kebangsaan dan kenegaraan, batang tubuh UUD 1945. Namun amat disayangkan, jurang landasan ideal Pancasila tersayang dengan realitas ke-Indonesiaan kita masih amat lebar dan dalam. Begitu terang benderangnya cahaya Matahari Kesadaran Pancasila di atas ketinggian cakrawala Nusantara nampaknya tak mampu ditangkap oleh ruang kesadaran kolektif struktur belantara masyarakat Indonesia yang masih di tumbuhi oleh pohon-pohon gelap kesadaran lama yang feodalistik. Mindset kesadaran orang Indonesia yang dikotomis, paradoks dan problematik ini bersifat amat sangat laten dan bila esensinya ditarik ke pusaran ruang-ruang sejarah masa lalu sampai ke zaman megalitikum atau bahkan kezaman primitif.

Rupanya kedatangan peradaban-peradaban besar dunia (Cina,India,Timur Tengah/Islam dan Eropah) yang menyumbang dan mempengaruhi bentuk peradaban nusantara tak cukup tuntas meneguhkan secara paripurna konstruksi bangunan peradaban nusantara. Catatan gemilang konsolidasi kekuatan yang berspirit check and balances, egaliter dan kosmopolit terjadi di era Kerajaan Bintoro Demak (Rendra,1997) dan disusul di era Pajang namun tidak berlangsung lama. Dengan berdirinya kerajaan Mataram maka watak kekuasaan feodal kembali merajai percaturan politik nusantara, hingga terbebasnya bumi pertiwi dari belenggu penjajahan Belanda dan Jepang. Berdirinya Negara ‘pusaka’ Kesatuan Republik Indonesia sebagai tinta emas sejarah manusia dalam pembebasan kebangsaan tidak dengan sendirinya melahirkan konsolidasi Negara Bangsa Indonesia yang solid dan holistik. Usaha merancangbangun dan menegakkan Negara Indonesia yang di dalamnya inheren pula perjuangan memotong karma feodalisme sejarah Nusantara masih menghadapi proses berliku dan tembok kultural yang tebal.

Citra Indonesia Berawal dari citra yang agung, bangsa Indonesia mestinya terus konsisten mempertahankan citra Negara Indonesia yang lahir dengan spirit otonomi, kebebasan dan kemerdekaan. Kita telah jauh tertinggal dari Korea dan Singapura yang merdeka dibelakang kita. Bahkan dengan Vietnam yang relatif baru memulai kehidupan berbangsa dan bernegara, kita tertinggal dalam hal konsolidasi kekuatan dan kerangka pembangunan sistem. Bolehlah kita berdalih tidak mudah mengatur masyarakat bangsa dengan penduduk yang banyak dan sangat pluralis ini, tapi semestinya tidak membuat bangsa ini lupa akan peta kemana arah mana perjuangan bangsa ini mau dibawa. Spirit membangun citra Indonesia yang berkarakter dengan bangunan nasonalisme yang kuat haruslah dikobarkan dan ditegakkan kembali.

Spirit narsistik, pencitraan pribadi dan kelompok/golongan yang partikular dan primordial harus dihentikan agar bangsa ini mulai dapat bekerja. Karakter dan citra lahir dari kehendak yang agung, menegakkan bangunan kebangsaan dalam kerangka bonum commune atau common platform untuk kebahagiaan, kesentosaan dan kesejahteraan bersama sebagai suatu bangsa. Untuk itu diperlukan pribadi-pribadi memiliki kehendak yang agung, seperti dikatakan St. Aloysius Gonzaga: Ad Maiora natus sum (Ke hal-hal yang lebih besar aku dilahirkan). Mereka adalah orang yang berspirit memberi dan bukan menerima dari kehidupan. Atau menurut Erich Fromm; berspirit to be/menjadi dan bukan to have (memiliki).

Ivy Ledbetter Lee, The Father of Public Relations mengatakan, untuk dapat menghasilkan pencapaian citra yang baik diperlukan pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi kejujuran, integritas dan loyalitas. (St. Maria Assumpta Rumanti, 2002).

Sumber: hasyimarsal.wordpress.com

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Hasyim Arsal

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *