Makanan Dari Sisi Allah Swt

Suatu hari, Imam Ali merasa sgt lapar, beliau pun bertanya kepada Fathimah istrinya.

“Adakah makanan yg bisa engkau hidangkan untukku?”

Fathimah pun menjawab,

“sudah dua hari ini, tidak ada makanan di rumah ini.”

“Kenapa tak engkau beritahukan padaku agar dapat saya usahakan”. Seru Imam Ali terharu.

“Sungguh saya malu kepada Allah meminta sesuatu yang membebanimu”. Jawab Fathimah, tertunduk.

Imam Ali kemudian bergegas keluar dan meminjam 1 dinar untuk membeli bahan makanan dari seorang sahabat.

Diperjalanan Beliau bertemu Miqdad salah seorang sahabat beliau dan Rasulullah. Miqdad sedang duduk tepekur di bawah terik matahari dan dengan tubuh yang gemetar. Imam Ali, langsung bersedih melihatnya. Dan bertanya:

“apa yg sedang kau lakukan Ya Miqdad di tengah terik matahari ini??”

“Sungguh jangan tanyakan keadaanku ya AbalHasan (Imam Ali).” Jawab Miqdad, makin bertambah sedih.

“Saya tidak akan meninggalkanmu sampai engkau ceritakan keadaanmu.” Seru Imam Ali.

“Anak-anak dan istriku di rumah menangis karena lapar. Saya tak sanggup mendengarnya. Sedang saya tak melihat ada jalan bagi menghilang lapar mereka. Makanya saya berada di tempat ini.”

Imam Ali pun meneteskan air mata dan menyerahkan uang 1 dinar yang baru dipinjamnya.

Karena tidak membawa hasil, Imam Ali kemudian ke Mesjid menunaikan salat dhuhur, ashar sampai Maghrib. Rasulullah SAW menyaksikan beliau dan mendekatinya:

“Saya ingin menikmati makan malam denganmu wahai Ali”. Imam Ali terdiam.

Serasa berat dan malu untuk menjawabnya. Beliau, Rasulullah, pun mendesaknya:

“katakan tidak, saya tidak akan memaksa. Atau kalau ya, ayo kita bergegas ke rumahmu.” Seru Rasulullah SAW sambil tersenyum. Imam Ali pun berkata:

“mari Rasulullah, silahkan kami siap melayanimu.”

Sesungguhnya Rasulullah SAW telah mendapat kabar dan wahyu dari Allah ttg kondisi Imam Ali. Imam Ali pun memahami itu tatkala melihat senyum yang merekah di wajahnya yang suci.

Sesampai di rumah terdengar suara kesibukan di dapur. Dan bau harum makanan yg mengundang selera. Imam Ali memandang Fathimah dan memandang Rasulullah bergantian.

“seseorang yang tak ku kenal telah membawa bahan makanan yang begitu banyak tadi dan semua ini, pasti adalah balasan Allah atas sesuatu yang telah engkau lakukan Suamiku”.

Rasulullah memandang mereka dengan senyumnya yang indah, beliau memeluk Imam Ali dan mengecup kening putrinya.

“Sesungguhnya ini adalah bahan makanan dari surga yang dibawakan Jibril as kepadamu, untuk kita nikmati malam ini”. Allahu Akbar.

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Hasyim Arsal

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *