Nahi Munkar Singkap Kemunafikan

Sayidina Ali bin Abi Thalib Kwh berkata;

مَن أمَرَ بِالمَعروفِ شَدَّ ظَهرُ المُؤمِنِ وَ مَن نَهى عَنِ المُنكَرِ أَرغَمَ أَنفَ المُنافِقِ وَ أَمِنَ كَيدَهُ؛

“Barangsiapa yang melakukan ammar makruf (menegakkan kebaikan), maka ia menambah energi mukmin. Barangsiapa yang mencegah kemunkaran, maka ia memoleskan debu pada hidung orang munafik dan juga aman dari makarnya.”

Ada istilah menarik pada perkataan Sayidina Ali di atas. Istilah memoleskan debu pada hidung seseorang. Sengaja saya terjemahkan secara leterlek sehingga kita bisa memahami makna kiasan dalam bahasa Arab. Maksud dari kalimat tersebut adalah menghinakan seseorang.

Perkataan Sayidina Ali di atas ingin menjelaskan, ammar makruf punya fungsi sendiri dan begitu juga nahi munkar. Ammar makruf akan mengokohkan barisan mukmin. Sementara nahi munkar mengamankan segala makar dari kaum munafik yang merusak dari dalam dengan mengatasnamakan Islam.

Dengan demikian, ammar makruf dan nahi munkar merupakan sebuah kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Keduanya bisa dikatakan dua unsur penting dalam menjaga keutuhan Islam. Selama ammar makruf dan nahi munkar ditegakkan, maka Islam akan jaya.

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Hasyim Arsal

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *