Salah Kaprah

Kita ini sering konyol dalam berpikir dan membanding-bandingkan sesuatu. Misalnya membandigkan perlakuan pemerintah Indonesia dan Arab Saudi terhadap kelompok yang dianggap teroris dan radikal. Arab Saudi itu penyokong berat kelompok teroris radikal yang melakukan kegiatan teror di negara Arab lain seperti Iraq dan Suriah. Tetapi bilamana kegiatan teroris radikal dilakukan di wilayah Arab Saudi, tentu saja akan diberangus.

Contoh lain, lihat saja betapa ganasnya militer Arab Saudi menghadapi milisi Syiah di Yaman. Di Indonesia kelompok-kelompok yang disebut teroris dan radikal itu kebanyakan isapan jempol. HTI misalnya tidak pernah melakukan tindakan kekerasan dan mengangkat senjata melawan pemerintahan sah. FPI berbeda dengan HTI tetapi disama-samakan. Wahabi dicurigai pula dan disamakan dengan HTI. Padahal Wahabisme didukung Arab Saudi di mana kita memperoleh banyak bantuan finansial. Kita ikut-ikutan latah seakan ISIS itu sama dengan Wahabi dan HTI.

Kita lupa bahwa semangat kebangsaan (nasionalisme) Indonesia banyak sekali diberi pupuk oleh para pejuang yang tidak sedikit di antaranya adalah ulama, kiyai, ustadz atau guru agama, serta para kesatria Muslim seperti Sultan Hasanuddin, Pangeran Antasari, Pangeran Trunojoyo, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cokroaminoto dan sederet tokoh yang diakui sebagai pahlawan. KH Hasyim Asyari (pendiri NU), KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) adalah contohnya, begitu pula Bung Tomo. Panglima Tertinggi TNI Almarhum Jenderal Sudirman sebelum menjadi pimpinan militer adalah seorang yang dididik dalam kepanduan Hizbul Wathan. Pemerintah kolonial memang menyebut mereka ekstrimis, kaum militan dan ujung-ujungnya juga disebut radikal yang selalu menentang pemerintahan yang sah yaitu Hindia Belanda. [Prof Dr Abdul Hadi WM]

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Hasyim Arsal

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *