Wabah Islam Nusantara

Politik itu indah. Sebagaimana diketahui politik itu sendiri adalah alat untuk mengatur kehidupan sosial dan mewujudkan kehidupan bersama. Sangat jelas bahwa politik itu sebatas alat, bukan tujuan.

Lebih dari sekedar alat, politik juga dipahami sebagai seni. Tak dipungkiri, seni itu pada dasarnya indah. Jika ada politisi berperan di luar estetika politik, maka ia pada dasarnya bukan politisi sejati.

Jauh dari sebatas alat dan seni, bahkan ada yang menyepadankan politik dengan agama; ‌Politik itu agama, sedangkan agama itu politik. Kalimat itu pernah diungkapkan seorang ulama pejuang Iran, Sayid Hassan Modarres (1870-1937).

Beberapa puluh tahun kemudian, ungkapan ulama itu juga dijadikan landasan Imam Khomeini untuk mewujudkan Revolusi Islam Iran. Dalam ungkapan senada, Imam Khomeini mengatakan, “Politik kami adalah ibadah kami itu sendiri. Ibadah kami adalah politik kami itu sendiri.”

Tak dapat dipungkiri, para nabi dan rosul diutus dimuka bumi ini untuk menata kehidupan individu dan sosial yang merupakan maksud dari politik itu sendiri. Dengan ungkapan lain, para nabi dan rosul hadir di tengah masyarakat untuk berpolitik dalam rangka mewujudkan keadilan. ”Tuhan memerintahkan kepada kamu untuk menegakkan keadilan dan kebaikan (ihsan).” (QS an-Nahl: 90).

Tentu yang dimaksud adalah politik nilai bukan politik pragmatis yang hanya untuk kepentingan sesaat. Pada dasarnya pragmatisme bukan lah politik, tapi adalah kelicikan. Imam Ali menyindir lawan politiknya saat itu, Muawiyah bin Abi Sofyan, mengatakan, “Jika tidak ada ketakwaan, maka aku adalah manusia terlicik di Arab.”

Pernyataan Imam Ali ingin mengajarkan kepada semua politisi sepanjang masa untuk menjadikan ketakwaan sebagai landasan berpijak dan berpolitik. Karena itu, sholat Jumat yang merupakan salah satu ibadah politik dalam Islam, selalu menekankan ketakwaan di awal-awal pidatonya. Bahkan penekanan pada ketakwaan merupakan rukun pidato sholat Jumat.

Alhamdulillah, Indonesia hadir dari sejarah perjuangan para pejuang yang berkiprah secara tulus, bukan pragmatis. Hasilnya adalah sebuah konsep kehidupan bersama, yaitu Pancasila yang menawarkan norma-norma pamungkas, termasuk keadilan, kepada bangsa Indonesia.

Tidak ada kekuatan satu pun yang mampu mengubah sistem Pancasila karena semua silanya mengandung kebenaran sejati dan pesan para nabi. Mereka yang mencoba melawan berarti ada di posisi kebatilan. Bisa jadi ada sistem ideal lainnya dengan nama lain seperti Khilafah atau Wilayatul Faqih, tapi ujung-ujungnya tetap kembali ke nilai dasar dan substansi Pancasila. Yang kurang dari Pancasila adalah mengimplementasikannya. Tentunya, pengimplementasian Pancasila itu terletak pada anak bangsa.

Alhamdulillah, bangsa ini masih percaya pada kekuatan Pancasila. Karena itu, segala bentuk kezaliman dan penjajahan di negeri ini selalu dihadapkan pada perlawanan yang nyata. Puncaknya, kekuatan 212 berhasil menghadang kekuatan asing yang ingin menguasai negeri ini. Meski tak dihadapi secara revolusioner, tapi setidaknya kekuatan asing setelah Aksi 212 berpikir dua kali untuk menindas bangsa ini. Geliat anak negeri ternyata masih belum punah.

Saat ini telah hadir kekuatan ulama di bawah pimpinan Habib Rizieq Shahab (HRS) untuk terus memantau kinerja para pemangku jabatan dan kekuasaan yang biasa diistilahkan dengan umara.´ Ulama tidak lagi memble dan jadi sapi perah bagi para politisi pragmatis.

HRS berhasil membuat garis merah kepada para pejabat dan politisi untuk tidak bermain-main dengan agama yang tidak lagi dipahami sebagai ajaran yang terpisah dari politik. Agama di bawah kendali ulama harus berperan langsung dan bertanggung jawab penuh atas kondisi sosial dan politik di negara ini.

Ammar makruf dan nahi munkar merupakan konsep fiqih yang mengharuskan ummat Islam tidak bersikap diam atas kondisi sosial dan politik. Ulama sebagai garda bangsa harus mampu mengimplementasikan ammar makruf dan nahi munkar di semua instansi pemerintah sehingga negara ini maksimal melayani rakyat. Agama harus dikembalikan sebagaimana fungsinya yang berperan penting menjaga nilai-nilai di tengah sosial.

Kembalinya ulama sebagai garda bangsa tentu mengundang reaksi para politisi pragmatis. Mereka terganggu. Tidaklah heran bila upaya merelatifkan konsep-konsep agama terus digalakkan oleh para pragmatis. Liberalisme pun disusupkan ke dalam nilai-nilai agama sehingga terwujudlah sekularisme atau pemisahan agama dari urusan politik dan sosial. Melalui wabah liberalisme itu, ulama tak berhak menyuarakan hal-hal yang berkaitan sosial dan politik.

Tantangan ulama saat ini menjaga agama dari wabah liberalisme dan sekuralisme. Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sebagai dua organisasi terbesar di negeri ini, sudah semestinya juga peka pada upaya liberalisasi dan sekularisasi. Jika tidak, kedua organ ini akan terkena wabah liberalisme dan sekularisme secara akut. Itulah yang dikhawatirkan HRS pada kondisi ulama saat ini.

Pemandangan yang begitu nyata saat ini adalah pemikiran-pemikiran yang mengesankan santun, tapi pada dasarnya ingin meninakbobokan ummat Islam. Berbagai istilah pun muncul dalam rangka membuka tafsir baru atas Islam demi kepentingan para neo liberalis.

Islam Nusantara, Islam Rahmatan Lil Alamin, Islam Cinta, Islam Toleran dan sejenisnya adalah istilah-istilah baru yang ingin mereduksi konsep agama sebenarnya menyesuaikan selera neo-liberalis. Sederet istilah itu tak ubah seperti opium bagi ummat Islam di nusantara ini.

Istilah-istilah itu berubah menjadi wacana baru yang punya daya tarik tersendiri. Namun semua itu punya target supaya ummat Islam loyo kehilangan jiwa kritis dan kehabisan spirit perjuangan. Ummat Islam diharapkan tidak lagi bisa berteriak melawan kezaliman dan menghadapi imperialisme. Mereka kehilangan aspek “asyida´ ala kuffar” atau bersikap tegas pada kaum kafir.

Tak dapat dipungkiri, sosok kyai seperti Yahya Cholil Staquf merupakan contoh nyata korban liberalisme. Bayangkan saja, penindasan yang begitu nyata selama berpuluh-puluh tahun di bumi Palestina masih ditolerir dan direlatifkan dengan kunjungan dan pertemuan dengan pihak musuh, yaitu Zionis Israel. Tanpa ada rasa beban, Staquf mempresentasikan pemikiran lemahnya atas nama “rahmatan lil alamin” di sebuah forum yang dihadiri para pembesar Zionis. Audiens pun tepuk tangan menyanjung pemikiran lemah Staquf yang merupakan poin besar bagi mereka. Tepuk tangan bukan untuk Staquf tapi untuk diri mereka sendiri. Naif!

Kunjungan, sowan dan silaturahmi pada dasarnya adalah baik. Tapi kunjungan terkadang diartikan merunduk atau mengibarkan bendera putih. Konteks itulah yang harus dipahami orang-orang seperti Staquf yang tampil polos menyuarakan kedamaian di saat pihak yang diajak berdamai terus membombardir bangsa Palestina secara keji.

Lebih dari itu, ada istilah “diplomasi perlawanan” dalam kamus Zionis Israel. Maksud dari “diplomasi perlawanan” adalah seakan mengedepankan diplomasi dan kesantunan tapi pada dasarnya adalah memberikan pesan perlawanan yang mendorong siapapun untuk mengakui eksistensi Zionis Israel.

Demikianlah modus neo imperialisme yang mengesankan santun dan kasih sayang, tapi faktanya tak lebih hanya sebatas kulit. Di balik semua kesan indah itu adalah memberangus hingga ke akar-akarnya.

Kaum neo imperialisme ingin ummat dan bangsa ini berpola pikir liberalis sehingga tidak ada lagi resistensi. Berbagai wacana bersubstansi liberal disiapkan untuk mematikan ghirah ummat. Waspadalah! (Alireza Alatas, pembela ulama dan NKRI/aktivis Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara -SILABNA-)

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Hasyim Arsal

Semenjak mahasiswa sudah mengukir karya-karya Kemaslahatan Umum dengan Cintanya yang murni seperti rintihan suci datuk-datuknya yang masyhur. Pesona pribadi  Habib Hasyim yang ramah dan hangat, mengantarkannya sebagi Public Relations Lion Air yang Piawai sekaligus menobatkannya sebagai salah satu PR terbaik di Indonesia. Kiprahnya di dalam kegiatan keagamaan, politik & bisnis adalah manifestasi dari kegelisahan dalam Menjahit Kembali Merah Putih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *